Kaiju No. 8 Vol 9: Senjata Hidup dan Warisan Ibu
Kaiju No. 8 Dalam struktur penceritaan manga shonen klasik, setelah pertempuran besar yang nyaris menghancurkan segalanya, biasanya akan diikuti oleh fase “Latihan” (Training Arc). Fase ini krusial untuk mengatur ulang papan catur sebelum perang terakhir dimulai. Kaiju No. 8 Volume 9 adalah definisi sempurna dari fase ini, namun Naoya Matsumoto mengeksekusinya dengan urgensi tinggi.
Setelah Kaiju No. 9 yang licik berhasil melarikan diri dan mengumumkan niatnya untuk memusnahkan umat manusia, Pasukan Pertahanan (Defense Force) sadar bahwa kekuatan mereka saat ini tidak cukup. Volume ini tidak berisi ledakan kota atau invasi monster raksasa; sebaliknya, ini berisi ledakan ego, trauma, dan ambisi para karakter utamanya. Fokus bergeser dari Kafka Hibino ke para “Next Gen” dan perwira elit yang harus menguasai senjata terkuat umat manusia: “Numbers Weapon”. Ini adalah volume tentang mewarisi kekuatan monster untuk membunuh monster.
Hoshina dan Kaiju No. 10: Duo Komedian Mematikan
Bintang utama yang mencuri panggung di volume ini tanpa diragukan lagi adalah Wakil Kapten Soshiro Hoshina. Karakter yang dikenal dengan mata sipit dan keahlian pedangnya ini mendapatkan upgrade yang paling tidak terduga dan paling menghibur: Weapon No. 10.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah seri ini (dan sejarah lore dunianya) sebuah senjata Numbers memiliki kesadaran sendiri. Kaiju No. 10, prototipe monster yang terobsesi pada pertarungan, kini menjadi baju zirah bagi Hoshina. Dinamika “Sobat Polisi” (Buddy Cop) yang disfungsional antara Hoshina yang serius-tapi-santai dan No. 10 yang haus darah menjadi sumber komedi emas. Dialog mereka di tengah latihan—di mana No. 10 terus mengejek Hoshina untuk membiarkannya mengambil alih—sangatlah segar.
Namun, di balik komedi itu, terdapat sinergi tempur yang menakutkan. Hoshina adalah ahli pertarungan jarak dekat yang selama ini kesulitan melawan Kaiju raksasa berukuran besar. Dengan kekuatan otot No. 10, kelemahannya tertutupi. Matsumoto menggambarkan desain setelan tempur baru Hoshina (yang memiliki ekor!) dengan sangat stylish dan sleek, menegaskan status Hoshina sebagai salah satu karakter terkeren di seri ini.
Kikoru Shinomiya: Beratnya Kapak Sang Ibu Kaiju No. 8
Jika Hoshina membawa elemen komedi-aksi, maka Kikoru Shinomiya membawa beban emosional yang berat. Di volume ini, Kikoru akhirnya dipercayakan untuk menggunakan Weapon No. 4, setelan tempur dan kapak raksasa yang dulunya milik ibunya yang telah gugur, Hikari Shinomiya.
Narasi Kikoru adalah tentang lepas dari bayang-bayang orang tua. Selama ini dia berjuang demi pengakuan ayahnya (Isao Shinomiya) yang kini telah tiada di tangan Kaiju No. 9. Sekarang, dia harus memakai “kulit” ibunya. Adegan di mana Kikoru melihat “hantu” atau memori ibunya saat menyinkronkan diri dengan senjata tersebut digambarkan dengan sangat menyentuh.
Matsumoto menggunakan panel close-up pada mata Kikoru untuk menunjukkan transisi dari keraguan menjadi tekad baja. Dia bukan lagi anak manja yang jenius; dia adalah prajurit yang memikul dendam keluarga. Visual saat dia mengayunkan kapak raksasa dengan pose yang identik dengan ibunya adalah momen fan-service emosional yang kuat, menjanjikan bahwa Kikoru akan menjadi pemain kunci dalam perang mendatang. (berita bola)
Reno Ichikawa: Kuda Hitam yang Bangkit
Jangan lupakan Reno Ichikawa. Sahabat Kafka ini sering kali terlupakan di bawah bayang-bayang protagonis monster, namun Volume 9 memberinya sorotan yang layak. Reno dipilih sebagai pengguna Weapon No. 6, senjata berbasis elemen es yang sangat kuat dan berbahaya.
Fakta bahwa Reno—seorang rekrutan baru biasa—dipilih untuk senjata selevel “Numbers” menunjukkan potensi gila yang dimilikinya. Latihannya digambarkan sangat brutal, menunjukkan bahwa bakat saja tidak cukup tanpa ketahanan mental. Perkembangan Reno penting untuk menjaga keseimbangan cerita agar tidak melulu tentang Kafka. Ini memberi pesan bahwa manusia biasa pun, dengan teknologi dan tekad, bisa berdiri sejajar dengan para Kaiju.
Seni Visual: Detail Monster dan Teknologi
Dari segi artistik, Naoya Matsumoto tetap konsisten dengan garis-garisnya yang bersih dan tajam. Keahlian khususnya terletak pada desain makhluk (creature design) dan teknologi militer.
Di volume ini, detail pada setelan “Numbers” sangat memukau. Setiap senjata memiliki estetika yang berbeda sesuai dengan Kaiju asalnya—No. 10 yang organik dan berotot, No. 4 yang mekanikal dan anggun, serta No. 6 yang dingin dan tajam. Matsumoto juga sangat pandai menggunakan double spread untuk menekankan dampak serangan saat latihan, membuat sesi sparring terasa seintens pertarungan hidup-mati.
Kafka: Sang Mentor yang Waspada
Meskipun fokusnya terbagi, Kafka Hibino tetap menjadi jangkar cerita. Perannya di volume ini lebih sebagai pengamat dan mentor moral. Dia melihat rekan-rekannya tumbuh melampaui dirinya, dan itu memicu rasa bangga sekaligus cemas.
Interaksi Kafka dengan Narumi (Kapten Unit 1 yang merupakan otaku elit) juga memberikan hiburan tersendiri. Namun, ada nada serius di balik tingkah konyol Kafka; dia sadar bahwa pada akhirnya, dia mungkin harus mengorbankan kemanusiaannya (berubah menjadi Kaiju sepenuhnya) untuk menyelamatkan teman-temannya yang kini sedang berlatih keras.
Kesimpulan Kaiju No. 8
Kaiju No. 8, Vol. 9 adalah volume persiapan yang tidak membosankan. Ia berhasil menghindari jebakan training arc yang sering kali terasa lambat (dragging) dengan cara memfokuskan cerita pada pengembangan karakter dan pengenalan senjata baru yang keren.
Ini adalah volume yang membangun hype. Kita diperlihatkan “mainan baru” para pahlawan kita, dan sekarang kita tidak sabar untuk melihat mereka menggunakannya untuk menghajar Kaiju No. 9. Dengan Hoshina yang kini memiliki “teman bicara” di kepalanya dan Kikoru yang memegang warisan ibunya, Pasukan Pertahanan akhirnya siap untuk serangan balik.
