Review Komik Kakukaku Shikajika

Review Komik Kakukaku Shikajika. Komik Kakukaku Shikajika tetap menjadi salah satu karya paling menginspirasi sekaligus paling jujur tentang proses menjadi seniman manga dalam beberapa tahun terakhir. Karya semi-autobiografi ini mengisahkan perjalanan Akiko Higashimura—yang dalam cerita menggunakan nama pena “Akiko”—mulai dari masa SMA ketika ia memutuskan ingin menjadi mangaka profesional hingga tahun-tahun awal karirnya yang penuh penolakan, kegagalan, dan pelajaran pahit. Tidak seperti banyak komik tentang “mimpi menjadi seniman” yang penuh semangat dan akhir bahagia instan, komik ini justru menunjukkan sisi paling keras dan tidak glamor: kerja keras yang melelahkan, kritik pedas dari editor, kehilangan kepercayaan diri berulang kali, serta perjuangan menyeimbangkan keinginan berkarya dengan kehidupan sehari-hari. Gaya cerita yang ringan, humor yang tajam, serta penggambaran emosi yang sangat relatable membuat komik ini terasa seperti surat cinta sekaligus peringatan bagi siapa saja yang ingin mengejar passion di bidang kreatif. BERITA BOLA

Alur Cerita yang Jujur dan Penuh Pelajaran Nyata: Review Komik Kakukaku Shikajika

Alur cerita komik ini mengalir secara kronologis dari masa SMA Akiko hingga beberapa tahun setelah debut. Bagian awal menunjukkan gadis SMA yang penuh semangat tapi sangat ceroboh—menggambar tanpa dasar anatomi yang benar, membuat cerita tanpa struktur, dan berpikir bahwa “passion” saja sudah cukup. Ketika akhirnya diterima di majalah manga, realitas langsung menghantam: editor yang tegas, deadline ketat, revisi berulang-ulang, dan penolakan yang membuatnya hampir menyerah berkali-kali. Komik ini tidak menyembunyikan kegagalan—ada bab yang hampir seluruhnya tentang Akiko menangis karena karya ditolak, merasa tidak berbakat, atau iri melihat teman seangkatan yang lebih cepat sukses. Namun justru dalam kegagalan itu terdapat pelajaran paling berharga: pentingnya latihan terus-menerus, mendengarkan kritik konstruktif, dan memahami bahwa bakat hanyalah titik awal, sedangkan kerja keras dan ketekunan yang menentukan jalan panjang. Komik ini juga menunjukkan sisi lain dari industri manga—hubungan editor-artis yang kadang tegang tapi pada akhirnya saling membangun, serta persahabatan dengan rekan sesama mangaka yang menjadi penopang di saat terendah.

Karakter yang Sangat Manusiawi dan Mudah Direlasi: Review Komik Kakukaku Shikajika

Akiko sebagai protagonis adalah salah satu karakter paling relatable dalam genre ini. Ia bukan seniman jenius yang langsung diakui—ia pemalas, sering menunda, mudah menyerah saat frustrasi, dan kadang egois dalam mengejar mimpinya. Namun justru karena sifat-sifat itu ia terasa sangat manusiawi. Pembaca bisa melihat diri sendiri dalam sikapnya yang kadang childish, kadang keras kepala, tapi juga dalam tekadnya untuk bangkit setiap kali jatuh. Karakter pendukung juga ditulis dengan kedalaman yang luar biasa: editor yang awalnya terlihat dingin tapi sebenarnya sangat peduli, sahabat yang mendukung tanpa syarat, serta rekan mangaka lain yang punya perjuangan masing-masing. Interaksi antar karakter penuh humor tajam yang tidak dipaksakan—seperti perdebatan sengit soal desain karakter atau momen lucu ketika Akiko panik karena deadline. Yang membuat komik ini istimewa adalah kejujurannya dalam menunjukkan bahwa menjadi seniman profesional bukan tentang “mimpi yang indah”, melainkan tentang menghadapi penolakan berulang, membandingkan diri dengan orang lain, dan tetap melanjutkan meski kadang terasa sia-sia.

Gaya Visual dan Pengaruh Emosional yang Unik

Gaya seni komik ini sangat khas Higashimura—garis yang ekspresif, karakter yang imut tapi tidak lebay, serta penggunaan chibi untuk momen lucu atau ekspresi wajah yang sangat detail untuk momen emosional. Panel-panel sering kali penuh dengan catatan kecil, coretan, atau doodle yang seolah-olah Akiko sedang menggambar sambil bercerita langsung ke pembaca. Penggunaan warna monokrom yang lembut (dalam volume tertentu ada sentuhan warna) membuat fokus tetap pada ekspresi dan emosi, bukan pada detail rumit. Pengaruh emosionalnya sangat kuat karena komik ini tidak pernah memaksa pembaca untuk “terinspirasi”—ia justru sering membuat pembaca merasa frustrasi, sedih, atau malah tertawa getir karena mengenali pengalaman sendiri. Banyak pembaca melaporkan bahwa setelah membaca beberapa volume, mereka tiba-tiba termotivasi untuk kembali menggambar, menulis, atau mengejar passion yang sempat ditinggalkan, bukan karena ceritanya memotivasi secara langsung, melainkan karena melihat bahwa orang lain juga pernah merasa tidak berbakat dan tetap melanjutkan.

Kesimpulan

Kakukaku Shikajika adalah komik yang berhasil menggabungkan humor ringan, kejujuran brutal, dan pelajaran hidup tanpa pernah terasa menggurui. Ia tidak menjual mimpi menjadi seniman sebagai jalan mudah menuju kesuksesan—sebaliknya, ia menunjukkan bahwa jalan itu panjang, melelahkan, penuh air mata, dan sering kali membuat ragu. Namun justru karena kejujurannya itu, komik ini menjadi sangat berharga bagi siapa saja yang sedang mengejar passion kreatif, terutama di bidang seni atau tulis-menulis. Bagi pembaca yang pernah merasa “tidak cukup berbakat”, pernah menangis karena karya ditolak, atau pernah hampir menyerah tapi akhirnya melanjutkan, komik ini terasa seperti teman yang mengerti tanpa perlu banyak bicara. Di tengah banjir cerita motivasi yang sering terlalu manis atau terlalu dramatis, Kakukaku Shikajika hadir dengan keberanian untuk berkata: “Tidak apa-apa kalau sekarang terasa berat—terus saja menggambar, karena suatu hari kamu akan melihat betapa jauhnya kamu telah melangkah.” Komik ini bukan sekadar bacaan—ia adalah pengingat bahwa proses sering kali lebih berharga daripada hasil akhir.

BACA SELENGKAPNYA DI…