Review Komik My Broken Mariko
Review Komik My Broken Mariko. Komik My Broken Mariko karya Waka Hirako tetap menjadi salah satu karya paling mengguncang dan banyak dibicarakan dalam genre drama dewasa Jepang modern. Diterbitkan sebagai one-shot panjang pada 2020, cerita ini mengikuti Tomoyo, seorang karyawati kantoran biasa, yang tiba-tiba menerima kabar bahwa sahabat masa kecilnya, Mariko, telah meninggal dunia secara tragis. Tanpa ragu, Tomoyo langsung pergi mengambil abu Mariko dan memutuskan untuk “membawa pulang” sahabatnya itu dalam bentuk abu yang disimpan di kotak sederhana. Perjalanan emosional Tomoyo bersama abu Mariko menjadi medium untuk menceritakan kembali hubungan mereka, trauma bersama, kekerasan domestik, dan rasa bersalah yang tak pernah selesai. Komik ini bukanlah cerita ringan tentang persahabatan; ia adalah potret mentah tentang luka yang tak terucapkan, penyesalan, dan upaya terakhir untuk “menebus” seseorang yang sudah tiada. BERITA VOLI
Gaya Narasi yang Minimalis Namun Sangat Menghantam: Review Komik My Broken Mariko
Salah satu kekuatan utama My Broken Mariko terletak pada kesederhanaan narasi dan seni yang sangat efektif. Waka Hirako menggunakan gaya gambar yang bersih, hampir klinis, dengan panel-panel besar yang sering kali hanya menampilkan ekspresi wajah, ruang kosong, atau objek sehari-hari seperti kotak abu, rokok, atau botol bir. Tidak ada latar belakang rumit atau efek dramatis berlebihan—semua elemen visual justru memperkuat rasa kesepian dan kehampaan yang dialami Tomoyo. Warna monokrom dominan membuat komik terasa dingin dan sunyi, seolah pembaca ikut “terperangkap” dalam kepala Tomoyo yang penuh penyesalan.
Cerita disampaikan melalui kilas balik yang tidak berurutan: masa kecil Tomoyo dan Mariko, kekerasan yang dialami Mariko dari ayahnya, janji-janji kecil mereka, hingga keputusan Tomoyo untuk tidak melakukan apa-apa saat Mariko paling membutuhkan pertolongan. Alur yang non-linear ini membuat pembaca secara bertahap memahami betapa dalamnya rasa bersalah yang ditanggung Tomoyo. Tidak ada narator yang menjelaskan atau menghibur—semua diserahkan kepada pembaca untuk merasakan sendiri beban emosional yang ditumpuk sepanjang cerita.
Karakter yang Terasa Sangat Nyata dan Luka yang Tak Terucapkan: Review Komik My Broken Mariko
Tomoyo dan Mariko bukan karakter yang dirancang untuk disukai atau dibenci—mereka terasa seperti orang-orang sungguhan yang kita kenal di kehidupan sehari-hari. Tomoyo adalah tipe orang yang selalu berusaha “baik” dan “normal”, tapi sebenarnya penuh penyesalan karena tidak pernah berani bertindak lebih jauh untuk menyelamatkan sahabatnya. Mariko digambarkan sebagai gadis yang ceria di luar, tapi hancur di dalam akibat kekerasan keluarga yang berulang. Hubungan mereka bukan persahabatan ideal; ada ketergantungan emosional, rasa bersalah satu arah, dan janji-janji kecil yang tidak pernah terpenuhi.
Komik ini tidak mencoba memberikan penebusan atau akhir yang menghibur. Tomoyo tidak “sembuh” setelah membawa abu Mariko berkeliling; ia hanya belajar menerima bahwa rasa sakit dan penyesalan itu akan tetap ada. Kekerasan domestik, bunuh diri, rasa bersalah survivor, dan ketidakmampuan membantu orang terdekat digambarkan tanpa sensor dan tanpa glorifikasi—semua ditampilkan apa adanya, membuat pembaca merasa tidak nyaman tapi juga sangat terhubung.
Tema yang Berat dan Relevansi yang Sangat Tinggi
My Broken Mariko bicara tentang tema-tema yang jarang disentuh secara frontal dalam manga: dampak jangka panjang kekerasan dalam rumah tangga, rasa bersalah karena “tidak melakukan cukup”, trauma yang diturunkan lintas generasi, dan kesulitan mencari makna setelah kehilangan orang terdekat. Komik ini tidak memberikan pesan motivasi atau harapan palsu—ia lebih memilih menunjukkan bahwa kadang luka itu memang tidak sembuh sepenuhnya, dan bahwa “menebus” masa lalu sering kali hanya ilusi.
Banyak pembaca menganggap komik ini sangat terapeutik meski berat—karena berhasil menggambarkan rasa bersalah survivor dan penyesalan yang sering disembunyikan. Ia juga menjadi pengingat bahwa persahabatan bisa menjadi tempat berlindung sekaligus sumber luka terdalam jika tidak ada komunikasi terbuka. Relevansinya tetap tinggi karena topik kekerasan domestik dan kesehatan mental masih menjadi isu besar di banyak masyarakat.
Kesimpulan
My Broken Mariko adalah komik yang sulit dilupakan karena keberaniannya menampilkan luka emosional tanpa filter dan tanpa akhir bahagia paksa. Ia berhasil menggabungkan seni visual yang kuat, narasi yang sangat personal, dan karakter yang terasa nyata menjadi sebuah cerita yang mengguncang sekaligus menyembuhkan. Bagi yang pernah merasa bersalah karena tidak bisa membantu orang terdekat, atau yang sedang belajar menerima kehilangan, komik ini terasa seperti pengakuan yang sangat dibutuhkan. Meski sangat berat dan tidak cocok untuk dibaca sembarangan, My Broken Mariko adalah salah satu karya yang benar-benar layak disebut masterpiece dalam genre drama dewasa—komik yang tidak hanya menceritakan, tapi juga memaksa kita menghadapi sisi paling rapuh dari kemanusiaan. Jika Anda siap dengan emosi yang kuat dan tidak mengharapkan akhir yang ringan, ini adalah salah satu komik yang akan tinggal lama di pikiran dan hati.
