Review Komik True Beauty

Review Komik True Beauty. Di awal 2026, True Beauty tetap menjadi salah satu manhwa romansa sekolah paling populer dan sering dibaca ulang oleh penggemar genre coming-of-age. Dirilis pertama kali sekitar 2018 dan selesai beberapa tahun lalu, komik ini kembali naik permukaan setelah adaptasi live-action terus diputar ulang di platform streaming serta diskusi hangat di komunitas pasca ulang tahun ke-8 cerita utama akhir 2025. True Beauty bukan sekadar cerita gadis yang pakai makeup; ia adalah potret jujur tentang tekanan penampilan di masa remaja, self-acceptance, bullying halus, dan bagaimana standar kecantikan memengaruhi identitas serta hubungan sosial. Dengan protagonis Lim Ju-kyung—gadis biasa yang jadi “ratu sekolah” berkat makeup—komik ini berhasil menyentuh jutaan pembaca yang pernah merasa tidak cukup baik tanpa polesan luar. Di tengah maraknya manhwa romansa baru, True Beauty masih jadi referensi utama karena keseimbangan antara drama ringan, humor, dan pesan yang dalam. BERITA BASKET

Plot yang Relatable dan Penuh Lapisan Emosi: Review Komik True Beauty

Cerita True Beauty mengikuti Lim Ju-kyung, siswi SMA yang merasa dirinya jelek tanpa makeup. Ia ahli merias wajah hingga bisa berubah drastis, lalu memutuskan pakai makeup setiap hari untuk bertahan di sekolah baru. Dari situ ia jadi salah satu siswi paling populer, tapi rahasia itu terus menghantuinya—takut ketahuan, takut ditolak, dan takut kehilangan teman serta perhatian yang selama ini didapatkan.

Plotnya bergerak melalui episode sehari-hari yang terasa sangat nyata: interaksi di kelas, gosip sekolah, momen awkward saat makeup luntur, hingga konflik saat rahasia mulai terbongkar. Ada romansa segitiga klasik dengan dua cowok utama—Lee Su-ho yang dingin tapi peduli, dan Han Seo-jun yang kasar tapi tulus—tapi penulis tidak membuatnya terlalu melodramatis. Setiap arc punya konflik emosional: dari Ju-kyung yang berjuang menerima diri sendiri, hingga teman-teman yang belajar menghargai orang bukan karena penampilan. Arc akhir memberikan penutupan yang memuaskan—tanpa happy ending instan—dengan fokus pada pertumbuhan karakter dan penerimaan diri.

Di 2026, ketika isu body positivity, filter sosial media, dan tekanan penampilan semakin sering dibahas, plot True Beauty terasa lebih relevan daripada saat rilis dulu. Ia tidak menghakimi siapa pun yang pakai makeup, tapi menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam, bukan dari validasi luar.

Karakter yang Hidup dan Chemistry yang Kuat: Review Komik True Beauty

Karakter adalah alasan utama komik ini bertahan lama. Lim Ju-kyung bukan heroine sempurna; ia insecure, sering panik, dan kadang egois karena takut kehilangan status barunya. Tapi ia juga baik hati, lucu, dan punya humor kering yang membuat pembaca langsung suka. Perkembangannya lambat tapi nyata—dari gadis yang bergantung pada makeup jadi seseorang yang berani tampil apa adanya.

Lee Su-ho dan Han Seo-jun punya chemistry berbeda tapi sama-sama kuat. Su-ho yang dingin dan pendiam ternyata punya trauma masa lalu, sementara Seo-jun yang kasar dan pemberontak sebenarnya sangat setia dan protektif. Romansa berkembang secara organik—dari salah paham, cemburu kecil, hingga momen-momen manis yang terasa hangat. Teman-teman Ju-kyung seperti Soo-jin dan Su-jin juga punya kedalaman: Soo-jin yang pintar tapi insecure, Su-jin yang populer tapi kesepian. Bahkan karakter sampingan seperti kakak Ju-kyung atau teman cowok punya momen yang membuat mereka terasa manusiawi.

Hubungan antar karakter dibangun melalui momen kecil—gosip di kantin, latihan bersama, atau saling mendukung saat down—sehingga pembaca benar-benar peduli pada nasib mereka.

Seni yang Cerah dan Ekspresif

Seni di True Beauty clean, cerah, dan sangat ekspresif. Gaya gambarnya fokus pada ekspresi wajah dan emosi: mata besar saat panik, pipi merona saat malu, atau air mata yang mengalir saat sedih. Desain karakter cantik tapi tidak berlebihan—Ju-kyung terlihat berbeda dengan dan tanpa makeup, tapi tetap seperti orang yang sama. Panel sehari-hari seperti kelas, kafe, atau jalan pulang sekolah terasa hangat dan familiar.

Warna pastel lembut mendominasi, dengan tone lebih gelap saat konflik emosional naik. Adegan lucu sering pakai chibi atau efek komedi visual sederhana, sementara momen romansa diberi panel close-up yang intim. Konsistensi seni tetap tinggi sepanjang cerita, membuat pembacaan terasa nyaman dan menyenangkan dari awal sampai akhir.

Kesimpulan

True Beauty adalah manhwa yang berhasil menangkap esensi masa remaja dengan cara paling jujur dan menyentuh. Lim Ju-kyung dan dunianya memberikan cerita yang ringan di permukaan tapi dalam di hati, dengan plot relatable, karakter yang hidup, dan seni yang hangat. Meski sudah lama tamat, komik ini masih sering direkomendasikan bagi siapa saja yang pernah merasa tidak cukup baik karena penampilan, dan tetap jadi salah satu yang paling emosional di genre romansa sekolah. Ia mengingatkan bahwa kecantikan sejati bukan soal wajah sempurna, tapi tentang keberanian menerima diri sendiri dan orang-orang yang menerima kita apa adanya. Bagi pembaca lama maupun yang baru mulai, True Beauty bukan sekadar manhwa; ia adalah cermin lembut tapi jujur tentang perjalanan mencintai diri sendiri di tengah tekanan dunia luar. Karya ini terus membuktikan bahwa cerita sederhana dengan hati yang besar bisa bertahan lama dan menyentuh jutaan orang.

BACA SELENGKAPNYA DI…